TRADISI GREBEG: WARISAN BUDAYA KERATON JAWA

May 19, 2026

PENGERTIAN

Grebeg adalah sebuah upacara adat tradisional Jawa yang diselenggarakan oleh keraton (seperti Keraton Yogyakarta dan Surakarta) untuk memperingati hari besar keagamaan, di mana raja atau pemerintah membagikan sedekah berupa "Gunungan" (susunan hasil bumi) kepada rakyat sebagai simbol rasa syukur dan kemakmuran.

Kata Garebeg, memiliki arti diiringi atau diantar oleh orang banyak. Hal ini merujuk pada Gunungan yang diiringi oleh para prajurit dan Abdi Dalem dalam perjalanannya dari keraton menuju Masjid Gedhe. Dalam pendapat lain dikatakan bahwa Garebeg atau yang umumnya disebut “Grebeg” berasal dari kata “gumrebeg”, mengacu kepada deru angin atau keramaian yang ditimbulkan pada saat berlangsungnya upacara tersebut.

SEJARAH

Upacara Grebeg berasal dari tradisi Jawa kuno yang disebut Rajawedha. Pada upacara tersebut raja akan memberikan sedekah demi terwujudnya kedamaian dan kemakmuran di wilayah kerajaan yang dipimpinnya. Tradisi sedekah raja ini awalnya sempat terhenti ketika Islam masuk di Kerajaan Demak. Akibatnya masyarakat menjadi resah dan meninggalkan kerajaan yang baru berdiri tersebut. Melihat gejala demikian, Wali Songo yang menjadi penasehat Raja Demak kemudian mengusulkan agar tradisi sedekah atau kurban oleh raja tersebut dihidupkan kembali. Akan tetapi, kali ini upacara yang berasal dari tradisi Hindu tersebut dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi sarana penyebaran agama Islam. 

Sejak periode Demak, upacara sedekah raja yang kemudian dijadikan sarana syiar Islam tersebut dikenal dengan nama Sekaten. Ada yang mengatakan bahwa Sekaten berasal dari kata “syahadatain” atau dua kalimat syahadat yang merupakan kesaksian untuk memeluk agama Islam. Pendapat lain mengatakan bahwa Sekaten berasal dari kata “sekati” yang merujuk kepada dua perangkat gamelan keraton yang dibunyikan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad. Tidak berhenti sebatas untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad, Kerajaan Demak juga menggelar upacara serupa untuk menandai berdirinya Masjid Demak yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha. Sejak saat itu tradisi sedekah raja ini berlangsung tiga kali setahun, termasuk untuk memperingati Hari Raya Idul Fitri. Berawal dari Demak, Kerajaan Islam di Jawa berikutnya tetap memelihara tradisi sedekah raja tersebut. 

FILOSOFI

Jenis-Jenis Tradisi Grebeg

  1. Grebeg Sawal digelar pada tanggal 1 Syawal untuk menandai berakhirnya bulan puasa dan sebagai bentuk rasa syukur setelah menjalani bulan Ramadhan.
  2. Grebeg Besar dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah (Besar) untuk memperingati Hari Raya Idul Adha.
  3. Grebeg Mulud digelar pada tanggal 12 Rabiul Awal (Mulud) untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad.

PROSESI & TRADISI ARAK-ARAKAN

1. Persiapan gunungan di dapur keraton oleh abdi dalem selama berhari-hari

2. Arak-arakan gunungan diiringi prajurit keraton berpakaian adat lengkap

3. Pembacaan doa di Masjid Agung oleh ulama keraton

4. Prosesi pembagian gunungan kepada masyarakat yang hadir

5. Warga berebut bagian gunungan yang diyakini membawa berkah dan keselamatan

Sumber: